Sabtu, 11 Januari 2014

Pendekatan SAVI karangan DAVE MEIER

  • Pendekatan SAVI untuk Belajar
Pembelajaran  tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak kesana kemari. Akan Tetapi, mengabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Saya namakan ini belajar SAVI. Unsur-unsrunya mudah diingat.
  1. Somatis        : Belajar dengan bergerak dan berbuat
  2. Audiotori      : Belajar dengan berbicara dan mendengar
  3. Visual           : Belajar dengan mengamati dan mengambarkan
  4. intelektual     : Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung
Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar berlangsung optimal. Karena unsur-unsur ini semuanya terpadu, belajar yang paliang baik untuk berlangsung jika semuanya itu dugunakan secara simultan. Di bawah ini diberikan perincian setiap keempat cara tersebut.
  1.  Belajar Somatis
         "Somatis" berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma (seperti dalam spikosomatis). Jadi, simatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkaan tubuh sewaktu belajar.
  • Bias terhadap Tubuh
        Namun, pembelajran somatis yang kuat berada dalam posisi yang tidak mengungtungkan dalam budaya barat, yang mempunyai sajarah panjang dalam memisahkan tubuh dan pikiran dan mengabaikan tubuh sebagai sarana untuk belajar. menurut keyakiana barat yang keliru, belajar hanya melibatkan "otak" dan tidak ada hubungannya dengan apa yang ada di bawahnya. Akibatnya, pendekatan "duduk manis, jangan bergerak, dan tutup mulut" dalam belajar dijadikan pendekatan baku di banyak sekolah dan perusahan.
         Panghambatan terhadap para pembelar somatis terus berlanjut hingga hari ini, dan bahkan telah meningkat dalam dua puluh tahun terakhir. Anak-anak yang bersifat somotis, yang tidak dapt duduk tenang dan harus menggerakkan tubuh mereka untuk membuat pikiran mereka tetap hidup, sering diangap mengganggu, tidak mampu belajar, dan merupakan ancaman bagi sistem,. Mereka dicap "hiperaktif". Dan kadang-kadang, mereka bahkan diberi obat.
         Padahal, untuk banyak anak, sifat hiperaktif itu normal dan sehat. Itu sudah menjadi kepribadian ilmiah mereka. Namun, anak-anak hiperaktif kadnag-kandang menderita karena sekolah mereka tidak tahu cara memperlakukan mereka kecuali menyatakan mereka sebagai manusia obnormal dan cacat.
        Edward T.Hall, dalam bukunya, Beyond Culture, Mengelukan hal ini pada 1976
"Cara anak-anak diperlakukan di sekolah benar-benar gila. Merka yang tidak dapat dudk diam dicap hiperaktif, dianggap sebagai pengidap kelainan dan sering diberi obar"
  • Tubuh dan Pikiran itu satu
        Kini , pemisahan tubuh/pikiran dari kebudayaan barat dan prasangka terhadap penggunaan tubuh dalam belajar menghadapi tantangan serius. peneliti neurologis telah membongkar kenyakinan  kebudayaan barat yang keliru bahwa pikiran dan tubuh adalah dua entitas yang terpisah. temuan meraka menunjukan bahwa pikiran tersebar di seluruh butuh. Intinya, tubuh ADALAH pikiran, pikiran ADALAH tubuh. Keduanya merupakan suatu sistem elektriskimiawi-biologis yang benar-benar terpadu. Jadi, dengan menghalangi pembelajar somotis menggunakna tubuh meraka sepenuhnya dalam belajar, kita menghalangi fungsi pikir mereka sepenuhnya.
  • Melibat kan Tubuh
        Untuk merangsang hubungan pikiran-tubuh, ciptakanlah suasana belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu. Tidak semua pembelajaran memerlukan aktivitas fisik, tetapi dengan berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar aktif dan pasif secara fisik, Anda dapat membatu pembelajaran setiap orang.

      2.  Belajar Auditori


         Pikiran auditori kita lebih kuat dari pada yang kita sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahwan tanpa kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri ketika berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.
    Sebelum Johannes Gurenberg menemukan mesin cetak pada 1449-an., kebanyakan informasi disampaikan dari generasi secara lisan. Epos, mitos, dan dongeng dalam semua kebudayaan kuno disampaikan melalui tradisi lisan: Beowlf, Lliad, dan Odyessey karya Homer, Gilgamesh, dan banyak lagi lainnya. Dan, seperti yang dapat anda bayangkan, kisah-kisah itu diceritakan dengan kekayaan suara yang begiti dramatis dan emosional sehingga menambah kesan meraka dalam kenangan.
       Bangsa Yunani kuno mendorong orang belajar dengan suara lantaran lewat dialog. filosofi mereka adalah: jika kita mau belajar lebih banyak tentang apa saja, bicarakan lah tanapa berhenti. Belajar auditori merupakan cara belajar standar bagu semua masyarakat sejak awal sejarah.

     3.  Belajar Visual

         Ketajaman visual , meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam dari setiap orang. Alasannya adalah bahwa dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada semua indra yang lain.
         Beberapa tahun yang lalu Dr.Owen Caskey dari Texas Tech university, dan Dave Meier menemukan bahwa orang-orang yang mengggunakan pencitraan (atau simbol) untuk mempelajari informasi teknis dan ilmiah rata-rata memperoleh nilai 12% lebih baik untuk ingatan jangka pendek dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunka pencitraan, dan 26% lebih baik untuk ingatan jangkan panjang. Dan statistik ini berlaku bagi setiap orang tanpa memandang usia, etnik gender atua gaya belajar yang dipilih.

      4. Belajar Intelektual

        Yang dimaksud dengan "intelektual" bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak berhungan, rasionalitis, "akademis".
        Bagi Dave Meier, kata "intelektual" menunjukan apa yang pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut. "intelektual" adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan, dan membangun, makna.
        Intelektual menurut cara mendefinisikan istilah itu adalah pencipta makna dalam pikiran; sarana yang digunakan manusia untuk "berpikir'', menyatukan pengalaman, mencipakan jaringan saraf baru, dan belajar. ia menghubungkan pengalaman mental, fisik emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk menggubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman (kita harap) menjadi kearifan.
  • S-A-V-I di SATUKAN
         Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, orang dapat belajar sedikit dengan menyaksikan presentasi (V), tetapi meraka dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi tersebut pada pekerjaan meraka (I). Atau, mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah (I), jika mereka secara simultan menggerakan sesuatu (S) untuk menghasilkan piktogram atau pajangan tiga dimensi (V) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (A).

sumber :
"Dave Meier, the accelerated learning hondbook: Panduan kreatif dan efektif merancang program pendidikan dan pelatihan: Mcgraw-Hill, New York, 2000"

4 komentar: